Categories Budaya

Silaturahmi Ramadan NU dan IKABU Bahas Peran Ulama

IAWNews.com – Suasana hangat penuh kekeluargaan terasa dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar Nahdlatul Ulama Jakarta Pusat bersama Ikatan Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Jabotabek di kediaman Gus Syaifuddin di kawasan Pulomas Utara I D, Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu (8/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di bulan suci Ramadan tersebut menjadi ruang kebersamaan bagi para ulama, tokoh masyarakat, serta alumni pesantren untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus membahas peran organisasi keagamaan dalam membangun masyarakat yang berakhlak dan berpendidikan.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam acara ini, di antaranya KH Ahmad Saman, Gus Rifqi Fuadi, serta Syahnan Brigjen TNI (Purn). Kehadiran para tokoh tersebut memperkuat nilai kebersamaan dalam agenda silaturahmi Ramadan yang sarat dengan pesan keagamaan dan kemasyarakatan.

Silaturahmi Ramadan NU dan IKABU Bahas Peran Ulama

Dalam sambutannya, Gus Syaifuddin yang juga menjabat Ketua Umum Forum Ulama Santri Indonesia (FUSI) menekankan pentingnya peran aktif Nahdlatul Ulama dalam kehidupan masyarakat.

Gus Syaifuddin menilai, organisasi besar seperti NU perlu memperkuat kemandirian agar mampu menjalankan program-program sosial, pendidikan, dan dakwah secara lebih berkelanjutan.

Menurut Gus Syaifuddin, kemandirian organisasi akan membuat kegiatan-kegiatan NU lebih bermartabat dan tidak selalu bergantung pada pengajuan proposal pendanaan.

“Ke depan, NU harus lebih mandiri. Kegiatan organisasi perlu diarahkan menuju pola yang lebih mandiri dan elegan,” katar Gus Syaifuddin.

Dalam tausiyahnya, KH Ahmad Saman mengajak para hadirin untuk kembali memperdalam nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa dalam perjalanan spiritual umat Islam dikenal proses mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai amalan seperti dzikir, ibadah, serta perenungan terhadap ciptaan-Nya.

Menurut KH Ahmad Saman, proses spiritual tersebut juga selaras dengan tradisi Nusantara yang mengenal konsep tirakat sebagai upaya membersihkan hati dan memperbaiki diri.

Pada kesempatan tersebut KH Ahmad Saman juga menyinggung kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Sunda sejak masa Prabu Siliwangi, yakni prinsip Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Nilai tersebut mengajarkan pentingnya saling mencerdaskan, saling menyayangi, dan saling menjaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih jauh, KH Ahmad Saman menegaskan bahwa inti ajaran Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah penyempurnaan akhlak manusia.

Diingatkan oleh KH Ahmad Saman empat sifat utama yang harus menjadi teladan umat Islam, yakni Shiddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan kebenaran), dan Fathonah (cerdas).

Menurut KH Ahmad Saman, nilai-nilai tersebut harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar simbol keagamaan. “Jangan sampai agama hanya menjadi simbol. Peci, sorban, dan sarung masih dipakai, tetapi nilai kejujuran dan amanahnya hilang,” ujarnya.

Acara silaturahmi kemudian ditutup dengan doa bersama dan buka puasa dalam suasana penuh kebersamaan. Momentum Ramadan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara ulama, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan Islam dalam menanamkan nilai akhlak serta memperkuat kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat. (sulis)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like