IAWNews.com – Jam dinding di studio menunjukkan lewat pukul dua dini hari ketika Asep AS berdiri di depan mikrofon. Di luar, sebagian orang bersiap sahur. Di dalam ruang Alls Syndicate Studio kawasan Koja, Jakarta Utara, pemilik nama lengkap Asep Arya Sentanu justru sedang menyalurkan cerita Ramadan ke dalam single terbarunya, Sok Sahur.
Take vokal dimulai sekitar pukul 02.30 WIB. Suasana studio sengaja dibuat senyap, pendingin ruangan dimatikan, hanya tersisa suara beat koplo yang mengalun dari headphone dan napas Asep AS yang mulai diatur. Bagi penyanyi jebolan dangdut Pantura 3 itu, proses rekaman kali ini bukan rutinitas biasa.
“Ini beda. Lagu ini butuh energi, tapi juga rasa,” ujar Asep AS sebelum masuk ke take berikutnya.

Sejak bait awal, lirik “Sok Sahur” langsung terasa dekat dengan keseharian Ramadan. Cerita tentang ikut sahur dengan penuh niat, unggah konten Islami, lalu mulai goyah ketika jam masih jauh dari waktu berbuka, membuat Asep AS beberapa kali berhenti sejenak, bukan karena salah nada, tetapi karena tertawa menyadari betapa nyatanya kisah itu.
Di ruang rekaman, lirik “Katanya niat karena Tuhan, tapi tiap jam liat jam” tak hanya dibacakan, tetapi dihidupkan. Asep AS diminta mengulang bagian tersebut untuk mendapatkan ekspresi vokal yang pas: setengah bercanda, setengah menyentil.
Proses take vokal berlangsung dinamis. rERe Nazaruddin selaku pencipta lagu dan Lukman Hakim Almazs selaku arranger sesekali memberi masukan soal tempo, tekanan kata, hingga cara mengucapkan punchline lirik agar tetap lucu tanpa kehilangan pesan. Pada bagian reff, Asep AS harus menguras stamina lebih dalam. Beat koplo yang rapat memaksanya menjaga napas sambil mempertahankan emosi.
Bagian paling hening justru terjadi saat Asep AS menyanyikan bridge lagu. Lirik tentang puasa yang bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan alasan dan drama, membuat suasana studio sejenak sunyi. Take vokal di bagian ini diulang beberapa kali hingga akhirnya semua sepakat, cukup, itu yang paling jujur.

Menjelang Subuh, rekaman selesai. Asep AS duduk mendengarkan hasil take vokalnya diputar ulang. Raut wajahnya berubah antara lega dan tak percaya. “Aku nggak nyangka hasilnya bisa kayak gini,” katanya singkat.
Bagi Asep AS, “Sok Sahur” bukan hanya lagu baru untuk menyemarakkan Ramadan 1447 H. Ia adalah potongan kecil dari kehidupan banyak orang, direkam di waktu sahur, dinyanyikan dengan rasa lapar, kantuk, dan kejujuran. Lagu yang mungkin membuat pendengarnya tertawa lalu diam sebentar, merasa sedang bercermin. (sulis)

