Categories Film & Musik

Dewa Budjana Umumkan Konser Solo Pranayama Intimate

IAWNews.com – Gitaris sekaligus komposer kenamaan Indonesia, Dewa Budjana, akhirnya mewujudkan keinginannya untuk menggelar konser tunggal dengan format yang lebih intim. Hal ini disampaikannya dalam press conference konser Dewa Budjana Pranayama Concert yang digelar di Deheng House, Kamis, 2 Maret 2026.

Di tengah riuhnya dunia yang semakin bising, Dewa Budjana memilih kembali ke hal paling mendasar dalam hidup, yaitu nafas. Dari sanalah lahir konser bertajuk “Pranayama”, yang akan digelar pada 10 April 2026 di Deheng House. Konser ini bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah ruang hening yang dirancang untuk dirasakan, bukan hanya didengar.

Setelah terakhir kali menggelar konser solo di Jakarta pada 2019, Dewa Budjana kembali dengan pendekatan yang jauh lebih personal. Di balik produktivitasnya merilis album, termasuk berbagai proyek internasional ia justru menjadikan panggung sebagai sesuatu yang langka dan eksklusif.

“Konser itu bukan soal frekuensi, tapi momen,” seolah menjadi filosofi yang dipegangnya.

Dewa Budjana Umumkan Konser Solo Pranayama Intimate

Perjalanan musikal Budjana dalam beberapa tahun terakhir banyak diwarnai kolaborasi global, termasuk rekaman bersama orkestra di Prague. Namun kali ini, ia justru memilih menyederhanakan segalanya.

Alih-alih menghadirkan orkestra besar, Dewa Budjana membangun lanskap bunyi yang lebih dekat, lebih manusiawi. Gitar, ritme, dan sentuhan tradisional berpadu dalam ruang yang memungkinkan setiap nada bernafas. “Musik itu harus punya harmoni. Kalau tidak, seperti konflik,” ungkapnya.

Konser ini pun menjadi refleksi dari kegelisahan sekaligus harapannya terhadap dunia: bahwa di balik segala ketegangan, selalu ada ruang untuk damai.

Dalam “Pranayama”, Dewa Budjana menggandeng sejumlah musisi yang telah lama menjadi bagian dari perjalanannya, termasuk Shadu Rasjidi, Yandi Andaputra, Dio Siahaan, Irsa Destiwi, dan Jaeko Siena, sekaligus menghadirkan warna baru melalui kehadiran Endah Widiastuti dari duo Endah N Rhesa.

Dewa Budjana Umumkan Konser Solo Pranayama Intimate

Bagi Endah, kolaborasi ini bukan sekadar proyek panggung, melainkan perjalanan emosional yang panjang. “Sempat deg-degan waktu diajak. Karena saya tahu, musik Mas Budjana itu tidak mudah,” ujarnya.

Namun di balik tantangan itu, tersimpan cerita lama yang akhirnya menemukan bentuknya hari ini. Sejak remaja, Endah sudah mengenal Budjana, bahkan sempat belajar langsung darinya. “Dari zaman sekolah, saya sudah datang ke studio beliau. Jadi ketika akhirnya bisa satu panggung, rasanya seperti mimpi yang jadi nyata,” tuturnya.

Dalam konser ini, Endah akan melangkah lebih jauh dari zona nyamannya. Ia tidak hanya bernyanyi dalam bahasa Indonesia dan Inggris, tetapi juga Sansekerta, bahasa klasik yang sarat makna spiritual.

“Saya harus belajar pengucapannya dengan benar. Karena walaupun dibawakan secara kontemporer, tetap harus memahami esensinya,” jelas Endah.

Dewa Budjana Umumkan Konser Solo Pranayama Intimate

Pilihan ini sejalan dengan semangat Budjana yang selalu menggabungkan unsur tradisi dan modernitas, menghadirkan musik sebagai ruang lintas budaya.

Lebih dari sekadar komposisi, “Pranayama” adalah sikap. Sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk baik konflik global, tekanan sosial, maupun kebisingan digital.

Dewa Budjana sendiri mengaku mulai menjauh dari hal-hal yang memicu kegaduhan, termasuk arus informasi negatif yang tak ada habisnya. “Kita perlu hal-hal yang adem. Musik bisa jadi salah satu cara untuk itu,” katanya.

Di ruang intim seperti Deheng House, gagasan itu menemukan bentuk paling nyata. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi ikut larut dalam perjalanan rasa yang ditawarkan.

Konser Pranayama menjadi salah satu pertunjukan yang sayang untuk dilewatkan, khususnya bagi penikmat musik instrumental, etnik, dan eksploratif. Tiket dibanderol mulai dari Rp300.000 hingga Rp500.000 dan dapat dibeli melalui platform resmi BookCabin.

Dewa Budjana Umumkan Konser Solo Pranayama Intimate

Dengan kapasitas terbatas, konser ini menjadi pengalaman yang tidak bisa diulang begitu saja. Sebuah pertemuan antara musisi dan pendengar dalam jarak yang nyaris tanpa batas.

Di titik ini, Dewa Budjana tidak lagi sekadar memainkan musik. Ia mengajak semua yang hadir untuk kembali menyadari satu hal sederhana yang sering terlupa, bahwa selama masih bisa bernapas, selalu ada ruang untuk merasakan keindahan. Dan mungkin, di situlah “Pranayama” menemukan maknanya yang paling dalam. (sulis)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like