IAWNews.com – Upaya penanggulangan stunting di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terus diperkuat melalui edukasi keluarga, perencanaan kehamilan, pengasuhan bersama antara ayah dan ibu, serta pendampingan keluarga yang berisiko mengalami masalah kesehatan.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Gedung Galan Living, Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Sabtu (12/09/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Vita Ervina, S. E.,M.B.A., Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Al-Khafid Hidayat, S. Pd. I, serta Kepala Dinsos PPKB PPPA Kabupaten Magelang M. Taufik, S. H., M. H.
Dikatakan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Ir. Rusman Efendi, bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan kembali pemahaman mengenai program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) serta program prioritas Presiden.
Menurutnya, program BKKBN tidak hanya berkaitan dengan pengendalian penduduk, tetapi juga pembangunan keluarga yang mencakup seluruh siklus kehidupan.
Sejumlah program prioritas yang diperkuat antara lain Gerakan Ayah Teladan (GATI), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), serta program SIDAYA untuk mendorong kemandirian dan keberdayaan lansia.

Sementara itu, Vita Ervina, S. E., M. B. A., menekankan pentingnya membangun keluarga melalui perencanaan yang matang. Menurut dia, keluarga perlu mempersiapkan masa depan, termasuk dalam menentukan jumlah anak dan memastikan kesiapan orang tua dalam menjalankan pengasuhan. “Kita perlu perencanaan yang baik, jumlah anak, dan kesiapan mental. Jadi bukan hanya kesiapan finansial,” ujarnya.
Ditambahkan oleh Vita Ervina, S. E., M. B. A., pengasuhan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Peran ayah juga diperlukan sejak masa kehamilan hingga tumbuh kembang anak.
Karena itu, Vita Evina, S. E., M. B. A., mendorong keterlibatan para ayah dalam berbagai program pembangunan keluarga agar kesehatan ibu dan anak dapat terus terjaga.
Di sisi lain, Al-Khafid Hidayat, S. Pd. I, mengingatkan bahwa perencanaan keluarga memiliki kaitan erat dengan pencegahan stunting. Ia menyebut adanya kehamilan yang tidak direncanakan di Magelang yang menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian karena dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan pada tumbuh kembang anak. “Stunting adalah hasil akhir dari semua akar masalah,” katanya.
Menurutnya, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum kehamilan. Salah satunya dengan mencegah perkawinan anak dan memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja.
Edukasi kesehatan reproduksi, kata dia, tidak seharusnya menjadi hal yang tabu, khususnya bagi anak perempuan. Pengetahuan mengenai cara menjaga kesehatan dan alat reproduksi penting diberikan agar remaja dapat mengambil keputusan yang tepat terkait masa depannya.
Ketika kehamilan terjadi, pemeriksaan kehamilan juga perlu dilakukan secara rutin. Al-Khafid mengingatkan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan setidaknya enam kali selama kehamilan sesuai anjuran layanan kesehatan.

Penguatan pencegahan stunting juga dilakukan melalui ekosistem Bangga Kencana. GATI menekankan pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, sedangkan GENTING mengedepankan upaya gotong royong untuk membantu keluarga yang memiliki risiko stunting.
Adapun SIDAYA diarahkan untuk mendorong kemandirian lansia sehingga kelompok lanjut usia tetap berdaya dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) menjadi salah satu ujung tombak di lapangan. Pendampingan dilakukan melalui deteksi dini, skrining faktor risiko, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), konseling pola asuh dan keluarga berencana, kunjungan rumah, fasilitasi rujukan ke fasilitas kesehatan hingga menghubungkan keluarga dengan bantuan sosial.
Pendampingan juga didukung pencatatan dan pelaporan data secara real-time. Dengan demikian, keluarga diharapkan tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga memperoleh layanan sesuai persoalan yang dihadapi.
Al-Khafid Hidayat, S. Pd. I., menegaskan kampanye Bangga Kencana harus berujung pada tindakan nyata. Artinya, keluarga yang berisiko harus teridentifikasi, mendapatkan layanan, memperoleh intervensi yang tepat, dan menghasilkan capaian yang dapat diukur.
Sementara itu, M. Taufik, S. H.,M.H., menjelaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia juga memaparkan kondisi keluarga di Kabupaten Magelang berdasarkan kelompok usia, mulai dari keluarga yang memiliki bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, pasangan usia subur (PUS), hingga keluarga yang memiliki lansia.
Menurut M. Taufik, S. H., M. H., pembangunan keluarga juga membutuhkan keterlibatan ayah. Karena itu, Kabupaten Magelang turut mengembangkan program GATI melalui berbagai kegiatan, seperti bilik konsultasi ayah, kegiatan ayah dan anak, serta program yang mendorong kedekatan dan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. “Gerakan Ayah Teladan ini mendorong agar ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga hadir dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut juga dipaparkan realisasi sejumlah program terkait penanggulangan stunting, termasuk GENTING, DASHAT, dan MBG 3B.
Kabupaten Magelang juga memiliki inovasi sosial untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting. Salah satunya melalui program “Sogoro Beras”, yakni pemberian sedekah dalam bentuk uang kepada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Selain dukungan sosial, penguatan layanan kesehatan juga dilakukan melalui pendataan fasilitas pelayanan kesehatan dan tempat praktik mandiri bidan (TPMB) yang terdaftar dalam sistem informasi keluarga (SIGA).
Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan stunting tidak hanya dilakukan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan. Pencegahan perlu dimulai sejak remaja, sebelum pernikahan, perencanaan kehamilan, masa kehamilan, hingga pengasuhan anak.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan keluarga di Kabupaten Magelang diarahkan tidak hanya untuk menekan risiko stunting, tetapi juga membangun keluarga yang sehat, sejahtera, mandiri, dan mampu mempersiapkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. (sulis)

