IAWNews.com – Program Bangga Kencana yang dijalankan Kemendukbangga/BKKBN terus diperkuat sebagai strategi membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Upaya tersebut ditegaskan dalam Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi Jawa Timur yang digelar di Balai Desa Tanjung, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Ir. Heru Tjahjono, MM, Ketua Tim Kerja Manajemen Kinerja Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur Amanda Aprillia Surya Ningtyas, S.IP, serta Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Tulungagung dr. Zuhrotul Aini, Sp.A., M.Kes.
Dalam pemaparannya, Amanda Aprillia Surya Ningtyas, S.IP, menegaskan bahwa Program Bangga Kencana mendukung Asta Cita Presiden, khususnya penguatan pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan dari desa. Pendekatan yang digunakan tidak hanya menyasar pasangan usia subur, tetapi seluruh siklus kehidupan manusia, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, anak, remaja, usia produktif hingga lansia.
“Generasi tangguh dimulai dari setiap tahap kehidupan. Setiap tahap memiliki tantangan tersendiri dan Program Bangga Kencana hadir dengan intervensi yang disesuaikan pada setiap fase,” ujar Amanda Aprillia Surya Ningtyas, S.IP.
Dijelaskan oleh Amanda Aprillia Surya Ningtyas, S.IP, salah satu fokus utama Bangga Kencana adalah mencegah stunting sejak sebelum kehamilan. Calon pengantin didorong menjalani pemeriksaan kesehatan dan penyuluhan, sementara pasangan usia subur memperoleh pendampingan Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta dukungan suplemen, vitamin, dan susu.

Saat memasuki masa kehamilan, ibu mendapatkan pemeriksaan rutin, pendampingan, hingga pemenuhan gizi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan ibu dan janin.
Menurutnya, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Pemerintah juga menargetkan membantu 1 juta keluarga berisiko stunting pada 2026 melalui berbagai intervensi dan kolaborasi lintas sektor, termasuk Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Pada fase balita, Program Bangga Kencana menitikberatkan pada pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian imunisasi, vitamin, serta dukungan pemenuhan gizi.
Selain GENTING, terdapat Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) dan MBG 3B yang dirancang membantu keluarga menjaga tumbuh kembang anak sejak dini.
Amanda Aprillia Surya Ningtyas, S.IP, mengingatkan adanya sejumlah tanda risiko stunting yang perlu diwaspadai, seperti berat lahir kurang dari 2,5 kilogram, panjang badan kurang dari 48 sentimeter, serta lingkar kepala kurang dari 31,5 sentimeter. Ia menegaskan bahwa pengasuhan yang baik, akses layanan kesehatan, makanan bergizi, serta sanitasi yang layak menjadi faktor penting dalam mencegah stunting.
Program Bangga Kencana juga memberi perhatian besar kepada remaja sebagai calon orang tua di masa depan. Remaja memperoleh pemantauan pertumbuhan, pemeriksaan kesehatan, edukasi kesehatan reproduksi, hingga pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.
Pada kelompok usia 6–24 tahun, Kemendukbangga/BKKBN juga menjalankan Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk memperkuat peran ayah dalam pengasuhan anak dan mencegah fenomena fatherless.
Pendekatan Bangga Kencana berlanjut pada kelompok usia produktif melalui pemeriksaan kesehatan, edukasi reproduksi, serta pendampingan keluarga baru, khususnya terkait gizi ibu hamil dan menyusui.
Sementara itu, kelompok lansia mendapat perhatian melalui Program Lansia Berdaya (SIDAYA), yang mencakup pendampingan, pemantauan kesehatan, dan pemberdayaan agar tetap aktif serta berkualitas di usia lanjut.
Sementara itu Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Tulungagung, dr. Zuhrotul Aini, Sp.A., M.Kes, menjelaskan bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode emas untuk mencegah maupun mengoreksi risiko stunting.

Diungkapkan oleh dr. Zuhrotul Aini, Sp.A., bahwa sekitar 11,2 persen stunting bermula sejak dalam kandungan, 60,6 persen terjadi sejak lahir hingga usia dua tahun, dan 28 persen terjadi pada usia dua hingga lima tahun. “Sebanyak 80 persen pembentukan otak terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Karena itu, pemenuhan gizi dan pencegahan penyakit pada masa ini sangat menentukan tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Menurut dr. Zuhrotul Aini, Sp.A., nutrisi yang tepat harus dibarengi stimulasi sejak dini agar pembentukan hubungan antarsel saraf otak berkembang optimal.
Dalam sesi edukasi, dr. Zuhrotul Aini, Sp.A., kembali menekankan pentingnya ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dilanjutkan pemberian MPASI yang tepat hingga usia dua tahun atau lebih. MPASI harus diberikan tepat waktu, memenuhi kebutuhan gizi, sesuai kemampuan makan anak, serta aman dikonsumsi.
Zuhrotul Aini, Sp.A., juga mengingatkan ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan protein, zat besi, asam folat, kalsium, vitamin D, yodium, seng, hingga asam lemak omega-3 dan omega-6, sekaligus membatasi konsumsi makanan tinggi gula, lemak, kafein, dan makanan yang kurang matang.
Melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta masyarakat, Program Bangga Kencana diharapkan mampu memperkuat pencegahan stunting sekaligus melahirkan generasi Indonesia yang sehat, produktif, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (cahyo)

