Categories Nasional

Cegah Stunting Sejak Remaja, Bangga Kencana Libatkan Keluarga dan Mitra di Lampung

IAWNews.com – Pencegahan stunting perlu dimulai sebelum pasangan membangun keluarga dan berlanjut hingga anak melewati masa pertumbuhan. Edukasi gizi remaja, perencanaan keluarga, serta keterlibatan ayah dalam pengasuhan menjadi bagian penting yang disoroti dalam Sosialisasi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Program Bangga Kencana bersama mitra kerja di Kota Bandar Lampung.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Gumay, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Senin (12/10/2026), menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Rahmawati Herdian, S.H., M.Kn.; Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Soetriningsih, S.Sos., M.Si.; serta Plt. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandar Lampung Henny Maryuniwati, S.STP., M.M.

Sosialisasi ini menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana, dan upaya percepatan penurunan stunting. Kolaborasi pemerintah, mitra kerja, kader, dan masyarakat diperlukan agar edukasi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dikatakan oleh Rahmawati Herdian, S. H., M. Kn, bahwa kegiatan sosialisasi tersebut digelar untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai keluarga berencana (KB). Menurutnya, edukasi KB perlu melibatkan suami dan istri agar perencanaan keluarga menjadi tanggung jawab bersama.

Dijelaskan oleh Rahmawati Herdian, S.H., M.Kn, salah satu mitra kerja Komisi IX DPR RI dalam kegiatan tersebut adalah Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau BKKBN.

Keterlibatan laki-laki dalam perencanaan keluarga menjadi perhatian karena keputusan mengenai jumlah anak, jarak kelahiran, dan kesiapan membangun keluarga perlu dibicarakan bersama pasangan.

Pemahaman tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan ibu dan anak. Perencanaan keluarga yang baik diharapkan membantu pasangan mempersiapkan kehamilan dan pengasuhan secara lebih matang.

Cegah Stunting di Lampung

Pada kesempatan yang sama Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung Soetriningsih, S, Sos, M. Si, menjelaskan bahwa Program Bangga Kencana mencakup pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana. Pelaksanaannya mengikuti tahapan kehidupan manusia, mulai dari balita, remaja, pasangan usia dewasa, hingga lanjut usia.

Dalam pencegahan stunting, Soetriningsih, S, Sos, M. Si, menekankan pentingnya kerja bersama. Pemerintah tidak dapat bergerak sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah, aparatur kewilayahan, kader, dan keluarga.

Menurutnya, pengasuhan anak juga perlu melibatkan kedua orang tua. Melalui Taman Asuh Sayang Anak, masyarakat didorong memahami pentingnya pola asuh yang mendukung perkembangan anak. Sementara itu, Gerakan Ayah Teladan Indonesia mengajak para ayah lebih aktif mendampingi anak, termasuk dalam kegiatan pendidikan dan kehidupan sehari-hari.

Soetriningsih, S, Sos, M. Si, juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada remaja. Program yang menyasar kelompok usia ini antara lain mendorong pencegahan perkawinan usia anak, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku seksual berisiko.

Ia menyebut usia ideal menikah yang disosialisasikan dalam program tersebut adalah 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.

Selain kelompok usia muda, perhatian terhadap lansia juga menjadi bagian dari pembangunan keluarga. Pendampingan kesehatan dan psikososial diperlukan untuk mengurangi risiko kesepian serta mendukung kehidupan lansia yang sehat dan mandiri.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas DPPKB Kota Bandar Lampung Henny Maryuniwati, S, STP, MM, menjelaskan bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Cegah Stunting Sejak Remaja di Lampung

Namun, pencegahan stunting tidak cukup hanya berfokus pada masa setelah kelahiran. Status gizi remaja juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari persiapan membangun keluarga dan melahirkan generasi yang sehat.

Henny Maryuniwati, S, STP, MM, mengimbau orang tua untuk mendampingi anak remaja putri dalam mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran. Pemenuhan kebutuhan gizi dan pencegahan anemia menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan remaja.

Orang tua juga diminta membangun komunikasi dengan anak laki-laki serta memberikan pendampingan agar mereka terhindar dari penyalahgunaan narkoba dan perilaku berisiko lainnya.

Menurut Henny Maryuniwati, S, STP, MM, DPPKB Kota Bandar Lampung memiliki sejumlah program yang menyasar keluarga berisiko stunting. Salah satunya adalah pemberian telur kepada 144 anak balita selama tiga bulan, dengan alokasi tiga butir telur setiap dua hari.

Keluarga yang belum mendapatkan akses program dapat berkoordinasi dengan kader setempat, termasuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan kader Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP), untuk memperoleh informasi mengenai pendataan dan bantuan yang tersedia.

DPPKB Kota Bandar Lampung juga memiliki program pembangunan 3.000 rumah bagi keluarga risiko stunting. Program tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap keluarga yang membutuhkan perhatian lebih dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.

Selain pemenuhan gizi dan edukasi kesehatan, Henny Maryuniwati, S, STP, MM, menyoroti pentingnya peran ayah dalam membangun hubungan yang sehat di dalam keluarga. Melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia, para ayah diharapkan lebih hadir dalam pengasuhan serta terlibat dalam kehidupan pasangan dan anak-anaknya.

Program sekolah lansia juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas kehidupan keluarga lintas generasi. Pendidikan nonformal ini diharapkan membantu lansia tetap sehat, mandiri, dan bermartabat.

Cegah Stunting di Lampung

Berbagai program tersebut memperlihatkan bahwa percepatan penurunan stunting berkaitan erat dengan pembangunan keluarga secara menyeluruh. Pemenuhan gizi, kesehatan reproduksi, kesiapan berkeluarga, pola pengasuhan, serta kondisi sosial dan ekonomi keluarga saling berkaitan dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Melalui sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana bersama mitra kerja, masyarakat diharapkan semakin memahami peran yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting sejak dini.

Sinergi pemerintah, mitra strategis, kader, dan keluarga menjadi kunci untuk memperluas jangkauan edukasi serta memperkuat upaya membangun generasi bangsa yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (sulis)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like