Categories Politik

Tambakberas Jadi Titik Temu Sejarah dan Masa Depan NU, Gus Yahya Serukan Warisan Mbah Wahab

IAWNews.com — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, membawa pesan yang lebih besar dari sekadar agenda pergantian atau penataan organisasi. Di tempat yang lekat dengan sejarah perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, NU kembali diajak membaca warisan pendirinya untuk menghadapi masa depan.

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menilai Mbah Wahab merupakan sosok yang tidak hanya berperan dalam membangun NU, tetapi juga memiliki cara pandang luas dalam membaca perubahan sosial, politik, kebangsaan, hingga geopolitik.

Hal tersebut disampaikan Gus Yahya dalam Istighotsah dan Bedah Buku KH Abdul Wahab Chasbullah di Auditorium Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah (UNWAHA), Tambakberas, Jombang, Sabtu (15/8/2026) malam.

“Mbah Wahab ini adalah Wali Peradaban,” ujar Gus Yahya.

Menurutnya, penyebutan tersebut menggambarkan posisi Mbah Wahab sebagai ulama yang tidak berhenti pada persoalan mempertahankan tradisi. Ia juga memikirkan masa depan dan agenda perjuangan yang harus disiapkan untuk menghadapi perubahan zaman.

“Bukan hanya apa yang harus dipertahankan dari warisan masa lalu, tapi apa yang diperjuangkan ke depan,” kata Gus Yahya.

Dikatakan oleh Gus Yahya, bahwa penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas memiliki makna tersendiri. Para peserta muktamar berada di lingkungan pesantren yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup dan perjuangan Mbah Wahab.

Momen tersebut semakin istimewa karena muktamar berlangsung pada tahun ke-100 dalam penanggalan Masehi.

“Ini adalah semangat Mbah Wahab yang harus menjiwai Muktamar ke-35, karena muktamar betul-betul istimewa. Persis di tahun ke-100 dalam penanggalan Masehi,” tutur Gus Yahya

Bagi Gus Yahya, keberadaan para peserta di Tambakberas semestinya mendorong refleksi sejarah. Muktamar bukan hanya forum untuk membicarakan persoalan internal organisasi, tetapi juga kesempatan memahami kembali akar pemikiran para pendiri NU.

“Kita gelar muktamar di pesantren tempat pendiri Nahdlatul Ulama yaitu Kiai Wahab Chasbullah,” ucap Gus Yahya.

Bahkan Gus Yahya mengingatkan warga NU agar tidak melupakan sosok Mbah Wahab ketika berada di Tambakberas. “Jangan sampai siapapun yang menginjakkan kaki di atas bumi Tambakberas ini lupa kepada Mbah Wahab,” tegasnya.

Mbah Wahab dikenal bukan hanya sebagai ulama pesantren, tetapi juga sebagai tokoh pergerakan nasional yang memiliki keterlibatan dalam berbagai dinamika politik dan kebangsaan.

Jejak tersebut menunjukkan bahwa kehidupan pesantren pada masa itu tidak terisolasi dari perkembangan Indonesia. Pesantren justru menjadi salah satu ruang penting bagi tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan gerakan sosial.

Dalam perjalanan NU, corak tersebut menjadi salah satu karakter organisasi, yakni menggabungkan nilai-nilai keislaman dengan komitmen terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Warisan itu dinilai masih relevan ketika dunia menghadapi perubahan geopolitik yang semakin kompleks. Tantangan umat Islam tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan keagamaan, tetapi juga menyentuh pendidikan, ekonomi, teknologi, politik internasional, perdamaian, serta masa depan peradaban. Karena itu, cara Mbah Wahab membaca perubahan menjadi bagian penting yang perlu dihidupkan kembali.

Dalam perspektif yang lebih luas, pemikiran Mbah Wahab memberikan pelajaran bahwa organisasi keagamaan tidak dapat mengabaikan perkembangan dunia.

NU memiliki basis sosial yang besar dan jaringan pesantren yang luas. Modal tersebut dapat menjadi kekuatan untuk ikut membangun kehidupan masyarakat sekaligus merespons berbagai perubahan global.

Semangat Mbah Wahab menempatkan Islam dan nasionalisme bukan sebagai dua kekuatan yang berlawanan. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam upaya menjaga Indonesia dan memperjuangkan kemaslahatan masyarakat.

Dari Tambakberas, pesan tersebut kembali mendapatkan ruang untuk dibicarakan menjelang dan dalam momentum Muktamar ke-35 NU.

Sementara itu, Ketua Panitia Silaturahmi Nasional Dzurriyah Muassis NU dan Bedah Buku Mbah Wahab, Gus Syaifuddin, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan, termasuk Muktamar ke-35 NU, dapat berlangsung lancar dan memberikan manfaat luas bagi warga NU maupun masyarakat Indonesia.

“Terima kasih atas dukungan dan kehadiran dalam kegiatan ini. Semoga pelaksanaan Muktamar NU ke-35 berjalan sukses,” ujar Gus Syaifuddin.

Muktamar ke-35 NU di Tambakberas pada akhirnya tidak hanya mempertemukan para pengurus dan warga NU dalam forum organisasi. Kehadirannya di lingkungan pesantren bersejarah tersebut juga menghadirkan pesan tentang pentingnya kesinambungan antara generasi pendiri dan generasi penerus.

Sejarah Mbah Wahab menjadi pengingat bahwa NU dibangun oleh ulama yang mampu memadukan tradisi keislaman, pendidikan, pergerakan, kebangsaan, dan kemampuan membaca perubahan dunia.

Karena itu, warisan Mbah Wahab tidak cukup hanya dikenang. Ia perlu diterjemahkan menjadi keberanian untuk merumuskan agenda baru, menjawab perubahan zaman, dan memperkuat kontribusi NU bagi Indonesia serta masyarakat dunia.

Tambakberas pun menjadi simbol pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Di tempat inilah NU kembali diajak mengingat akar sejarahnya sekaligus menentukan bagaimana warisan para pendiri dapat menjadi energi bagi perjalanan organisasi di tengah perubahan geopolitik global.

Bagi Gus Yahya, Mbah Wahab adalah “Wali Peradaban”. Sebutan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa perjuangan ulama tidak berhenti pada satu generasi, melainkan harus terus hidup melalui gagasan dan tindakan generasi berikutnya. (mdj)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like