IAWNews.com — Memasuki usia 44 tahun, Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menegaskan pentingnya konsolidasi dan kesatuan organisasi dalam menghadapi berbagai agenda kebudayaan Jakarta. Pesan tersebut mengemuka dalam Pagelaran HUT ke-44 Bamus Betawi sekaligus HUT Kota Jakarta 2026 di Grand Orchardz Hotel Rajawali Kemayoran, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Mengusung tagline “Menyongsong Lima Abad Jakarta Kota Budaya & Kita Global”, kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan perjalanan organisasi, tetapi juga ruang mempertemukan jajaran pengurus, organisasi masyarakat pendukung, tokoh Betawi, dan pemerintah.
Dikatakan oleh Ketua Umum Bamus Betawi, H. Riano P. Ahmad, S.H., bahwa usia 44 tahun merupakan perjalanan panjang yang telah melewati berbagai dinamika organisasi. Sejak berdiri pada 1982, Bamus Betawi disebut terus berupaya menjaga marwah dan keberadaan budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta.
“Perjalanan Bamus Betawi yang sudah memasuki usia 44 tahun tentunya merupakan hal yang penuh semangat, penuh ikhtiar dalam melakukan kegiatan dalam organisasi Bamus Betawi,” ujar H. Riano P. Ahmad, S.H.

Menurut H. Riano P. Ahmad, S.H., dinamika yang muncul selama perjalanan organisasi menjadi bagian dari proses pendewasaan. Perbedaan pandangan maupun kepentingan tidak dipungkiri hadir dalam organisasi, namun dapat dilewati melalui komunikasi dan kebersamaan. Ia menilai momentum HUT ke-44 memperlihatkan adanya kesolidan antara jajaran pengurus dan organisasi masyarakat yang menjadi bagian dari Bamus Betawi.
“Dalam satu organisasi tentunya pasti ada pro, ada kontra. Nah, di Bamus Betawi selama 44 tahun ini kita bisa melewati dengan baik,” kata H. Riano P. Ahmad, S.H.
Selain memperingati perjalanan organisasi, Bamus Betawi juga menggunakan momentum tersebut untuk menyampaikan hasil konsolidasi internal. H. Riano P. Ahmad, S. H., mengatakan rapat pimpinan yang telah dilakukan sebelumnya menghasilkan keputusan untuk mengevaluasi struktur organisasi. Pengurus yang tidak aktif maupun dinilai kurang produktif dilakukan evaluasi, rotasi, hingga reshuffle.
Menurut H. Riano P. Ahmad, S.H., perubahan struktur tersebut kini telah mendapatkan pengesahan dan terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM. “Rotasi dan evaluasi itu sudah kita jalankan dengan baik dan disahkan serta didaftarkan dalam Kementerian Hukum dan HAM,” katanya.
Dalam kepengurusan terbaru, posisi Sekretaris Jenderal Bamus Betawi dijabat Anas Ma’ruf, SE sedangkan posisi Bendahara Umum dijabat Hj. Farida Listuti.
H. Riano P. Ahmad, S.H., menyebut konsolidasi tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan roda organisasi berjalan lebih aktif. “Harus dilakukan rotasi dan evaluasi terhadap pengurus-pengurus yang tidak aktif dan yang secara kinerjanya kurang,” ujarnya.

Selain itu H. Riano P. Ahmad, S.H., berharap pembenahan internal tersebut dapat memperkuat organisasi dalam menjalankan berbagai agenda masyarakat Betawi.
Bagi H. Riano P. Ahmad, S.H., salah satu pekerjaan penting Bamus Betawi setelah memasuki usia 44 tahun adalah mempertahankan kebersamaan dalam jangka panjang. Ia menekankan bahwa soliditas tidak seharusnya hanya terlihat ketika organisasi menggelar kegiatan.
“Jangan karena ada acara atau event, tapi bagaimana kekompakan, kesolidan ini terus kita bisa jaga dan pelihara,” tutur H. Riano P. Ahmad, S.H.
Menurut H. Riano P. Ahmad, S.H., masukan dari para tokoh dan orang tua Betawi juga diperlukan dalam menjaga keberlangsungan organisasi. Aspirasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan langkah organisasi ke depan.
Konsolidasi tersebut juga berkaitan dengan posisi Bamus Betawi dalam perkembangan kelembagaan kebetawian di Jakarta. H. Riano P. Ahmad, S.H., menyampaikan bahwa Bamus Betawi turut berkontribusi dalam proses terbentuknya Lembaga Adat dan Kebudayaan Betawi.
Perubahan Jakarta menjadi kota global menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi kebetawian. H. Riano P. Ahmad, S.H., menilai modernisasi harus tetap berjalan bersamaan dengan penguatan identitas budaya. “Menuju kota global itu, salah satu credit point atau identitasnya itu adalah budayanya harus ada,” katanya.
H. Riano P. Ahmad, S.H., mengatakan budaya Betawi perlu terus ditampilkan dengan pendekatan yang dapat mengikuti perkembangan zaman. Tradisi dan kesenian Betawi, menurut dia, dapat terus dikembangkan dalam bentuk yang lebih kekinian tanpa kehilangan nilai budayanya. Hal tersebut menjadi semakin relevan karena Jakarta akan memasuki momentum lima abad pada 2027.
Bamus Betawi, kata H. Riano P. Ahmad, S.H., memiliki pekerjaan rumah untuk memastikan masyarakat Betawi dapat memberikan kontribusi positif dalam perkembangan Jakarta. “Bagaimana warga Betawi itu bisa memberikan kontribusi positif untuk Pemerintah DKI Jakarta,” ujarnya.

Sementara itu Kabid Ketahanan Ekonomi, Seni, Budaya, Agama, dan Kemasyarakatan Kesbangpol DKI Jakarta, Mazhar Setiabudi, mengatakan peringatan HUT Bamus Betawi dan HUT Kota Jakarta memiliki makna lebih luas daripada sekadar perayaan.
Menurut Mazhar Setiabudi, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat rasa memiliki terhadap Jakarta, menjaga budaya Betawi, serta memperkokoh persatuan masyarakat. “Momentum ini bukan sekadar perayaan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan kesempatan bagi kita untuk memperkuat kembali rasa memiliki terhadap Jakarta,” katanya.
Mazhar Setiabudi menyebut Jakarta dibangun di atas keberagaman masyarakat. Karena itu, budaya Betawi menjadi salah satu unsur penting dalam identitas kota.
Mazhar Setiabudi menilai Bamus Betawi memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan budaya Betawi di tengah perubahan Jakarta sebagai kota metropolitan dan pusat pergaulan masyarakat dari berbagai daerah. “Keberadaan Bamus Betawi memiliki arti strategis sebagai salah satu wadah yang dapat berperan dalam menjaga, mengembangkan, dan memperkuat eksistensi budaya Betawi,” ujarnya.
Mazhar Setiabudi berharap Bamus Betawi dapat terus menjadi mitra strategis Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun Jakarta yang harmonis, inklusif, berbudaya, dan berkarakter.
Mazhar Setiabudi juga mengingatkan bahwa pembangunan Jakarta tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, ekonomi, teknologi, dan modernisasi. “Jakarta boleh terus berkembang menjadi kota global, tetapi Jakarta tidak boleh kehilangan jati dirinya,” tegasnya.
Menurut Mazhar Setiabudi, kegiatan budaya juga dapat menjadi sarana edukasi, silaturahmi, regenerasi, dan penguatan karakter masyarakat.
Melalui kegiatan kebudayaan, berbagai kelompok masyarakat dapat bertemu dalam ruang yang sama dan membangun komunikasi. Karena itu, Mazhar Setiabudi mengajak seluruh masyarakat Jakarta menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan. “Marilah kita jadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan,” katanya.

Peringatan HUT ke-44 Bamus Betawi akhirnya menjadi momentum ganda: merayakan perjalanan panjang organisasi sekaligus memperkuat konsolidasi menghadapi agenda Jakarta ke depan.
Dengan penguatan struktur internal, kesolidan antarelemen organisasi, pelestarian budaya, serta kolaborasi dengan pemerintah, Bamus Betawi menatap perjalanan menuju Jakarta lima abad dengan membawa identitas budaya Betawi sebagai salah satu bagian dari wajah Jakarta. (cahyo)

