Categories Budaya

BMDN Dorong Diplomasi Budaya Indonesia-Suriah ke Dunia

IAWNews.com — Hubungan antarnegara tidak selalu harus dibangun melalui diplomasi politik dan ekonomi. Kebudayaan dapat menjadi jalur alternatif yang menghadirkan kedekatan emosional sekaligus mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.

Semangat tersebut menjadi perhatian Budayantara Media Digital Nusantara (BMDN) saat melakukan silaturahmi ke Kedutaan Besar Suriah di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Kunjungan BMDN yang diwakili Renee Partina, Masdjo Arifin, dan Yoyok Abidin itu diterima H.E. Mr. Abdulmonem Annan, Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of the Syrian Arab Republic.

Pertemuan tersebut membuka ruang komunikasi mengenai potensi hubungan budaya Indonesia dan Suriah, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring diplomasi budaya di tingkat internasional.

Founder BMDN, Masdjo Arifin, mengatakan budaya memiliki kekuatan sebagai instrumen soft power karena dapat membangun hubungan antarmasyarakat secara langsung.

“Diplomasi budaya adalah cara ampuh bagi Indonesia untuk mendekatkan hubungan antarbangsa (people-to-people ties) melalui pendekatan lunak (soft power) seperti seni, bahasa, kuliner, dan tradisi,” kata Masdjo Arifin.

BMDN Dorong Diplomasi Budaya Indonesia-Suriah ke Dunia

Menurutnya, seni dan kebudayaan dapat menciptakan ruang perjumpaan yang lebih humanis. Masyarakat dapat mengenal bangsa lain bukan hanya melalui pemberitaan mengenai politik atau ekonomi, tetapi juga melalui karya seni, makanan, bahasa, musik, dan tradisi.

Dalam konteks Indonesia dan Suriah, jalur kebudayaan dinilai memiliki potensi untuk memperluas pemahaman masyarakat kedua negara.

Suriah dikenal memiliki sejarah peradaban panjang dengan warisan budaya yang berkembang dari persilangan berbagai kebudayaan di kawasan Timur Tengah dan Mediterania. Indonesia pun memiliki keragaman budaya yang lahir dari berbagai suku, bahasa, tradisi, dan wilayah di Nusantara.

Perbedaan tersebut dapat menjadi sumber pertukaran pengetahuan dan kreativitas.

Masdjo Arifin menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk menggunakan kebudayaan sebagai kekuatan diplomasi.
Seni pertunjukan, musik tradisional, tari, kain, kuliner, cerita rakyat, bahasa daerah hingga tradisi masyarakat dapat menjadi materi diplomasi budaya.

Namun, kekayaan tersebut perlu dikemas dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.

Tantangannya adalah memastikan proses modernisasi tidak menghilangkan identitas budaya yang menjadi akar dari karya tersebut.

Di sinilah teknologi digital dinilai dapat memainkan peran penting. Platform digital memungkinkan ekspresi budaya dari berbagai daerah diperkenalkan kepada audiens internasional tanpa harus menunggu kehadiran secara fisik di negara tujuan.

Sebuah pertunjukan tari dari daerah dapat menjangkau penonton di berbagai negara. Musik tradisional dapat dipadukan dengan musik modern. Kuliner khas daerah dapat dikembangkan menjadi konten kreatif. Cerita rakyat dapat diadaptasi menjadi film, animasi maupun konten digital.

Ditambahkan oleh Renee Partina, Indonesia juga perlu memiliki keberanian untuk mengembangkan budaya populer dengan karakter khas Nusantara.

Menurutnya, keberagaman budaya tidak semestinya hanya dipandang sebagai kekayaan yang harus dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber kreativitas untuk menghasilkan karya yang mampu bersaing secara global.

“Melakukan terobosan dalam menciptakan suatu budaya populer khas Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meramu berbagai ragam budaya Indonesia menjadi satu budaya populer yang khas dan dapat diterima oleh publik internasional, dengan tetap berakar pada nilai-nilai luhur budaya Indonesia,” ujar Renee Partina.

Gagasan tersebut dapat melibatkan banyak sektor, mulai dari seniman, pekerja kreatif, media, komunitas, pelaku industri budaya hingga generasi muda.

Kolaborasi lintas bidang diperlukan agar budaya Nusantara tidak hanya menjadi objek pelestarian, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan kreatif dan ekonomi sekaligus sarana diplomasi.

BMDN menempatkan media digital sebagai salah satu sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada publik yang lebih luas.

Kunjungan ke Kedutaan Besar Suriah menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi lintas budaya dan membuka kemungkinan kerja sama pada masa mendatang.

Bagi BMDN, diplomasi budaya bukan sekadar memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Lebih dari itu, diplomasi budaya merupakan proses membangun rasa saling mengenal dan menghargai antara masyarakat dari berbagai negara.

Hubungan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana seperti seni, kuliner, musik, bahasa dan tradisi.

Dari interaksi kebudayaan itulah kemudian dapat tumbuh hubungan antarmasyarakat yang lebih kuat.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, budaya dapat menjadi bahasa universal yang melampaui batas geografis.

Indonesia memiliki kekayaan Nusantara yang sangat besar untuk diperkenalkan kepada dunia. Tantangannya kini adalah bagaimana kekayaan tersebut dikemas secara kreatif, relevan dan tetap berakar pada nilai budaya.

BMDN berharap komunikasi yang terbangun dengan Kedutaan Besar Suriah dapat menjadi awal dari hubungan budaya yang lebih luas.

Sebab, sebelum berbicara mengenai kepentingan yang lebih besar, bangsa-bangsa dapat terlebih dahulu saling mengenal melalui budaya. Dari Nusantara, membangun persahabatan melalui budaya untuk dunia. (sulis)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like