IAWNews.com – Pencegahan stunting menjadi salah satu langkah penting dalam menyiapkan sumber daya manusia berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Upaya ini membutuhkan keterlibatan keluarga sejak masa persiapan kehamilan, pemenuhan gizi ibu dan anak, hingga penerapan pola pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra di Provinsi Jawa Timur, yang berlangsung di Balai Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Sabtu (24/10/2026).
Program yang dijalankan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN ini mendorong penguatan pembangunan keluarga sebagai fondasi peningkatan kualitas manusia. Melalui edukasi dan pendampingan, masyarakat diharapkan memahami bahwa pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan membutuhkan peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar.
Sosialisasi tersebut menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Ir. Heru Tjahjono, MM; Ketua Tim Kerja Pembangunan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur Dra. Sofia Hanik, MM; serta Sekretaris Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tulungagung, Lipursari, S.E., MM.
Dalam pemaparannya, Dra. Sofia Hanik, MM menjelaskan bahwa Program Bangga Kencana mendukung Asta Cita Presiden, terutama dalam penguatan sumber daya manusia dan pembangunan yang dimulai dari desa.
Menurutnya, pembangunan manusia harus dilakukan melalui pendekatan sepanjang siklus kehidupan. Artinya, intervensi tidak hanya diberikan kepada pasangan usia subur, tetapi juga mencakup calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, anak-anak, remaja, kelompok usia produktif, hingga lansia.

“Generasi tangguh dimulai dari setiap tahap kehidupan. Setiap tahap memiliki tantangan tersendiri dan Program Bangga Kencana hadir dengan intervensi yang disesuaikan pada setiap fase,” ujar Dra. Sofia Hanik, MM.
Ditegaskan oleh Dra. Sofia Hanik, MM, bahwa, pencegahan stunting perlu dimulai sejak sebelum kehamilan. Calon pengantin didorong menjalani pemeriksaan kesehatan dan memperoleh edukasi untuk mempersiapkan kehidupan berkeluarga. Sementara itu, pasangan usia subur dapat memperoleh pendampingan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Ketika kehamilan berlangsung, perhatian diarahkan pada pemeriksaan kesehatan secara rutin, pendampingan ibu hamil, serta pemenuhan kebutuhan gizi untuk mendukung kesehatan ibu dan janin.
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Risiko tersebut perlu diantisipasi, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni periode sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Pada masa balita, upaya pencegahan dilanjutkan melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, imunisasi, pemberian vitamin sesuai kebutuhan, serta pemenuhan makanan bergizi.
Pemerintah juga mengembangkan sejumlah program untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan pengasuhan dan gizi anak. Di antaranya Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), serta MBG 3B.
Melalui berbagai intervensi tersebut, pemerintah menargetkan dapat membantu satu juta keluarga berisiko stunting pada 2026 dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Dra. Sofia Hanik, MM, juga mengingatkan pentingnya mengenali indikator risiko sejak dini. Berat badan lahir kurang dari 2,5 kilogram, panjang badan kurang dari 48 sentimeter, dan lingkar kepala kurang dari 31,5 sentimeter merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian serta pemeriksaan tenaga kesehatan.
Selain pemenuhan gizi, pola pengasuhan, akses terhadap layanan kesehatan, dan sanitasi yang layak turut berperan dalam mendukung pertumbuhan anak.
Pentingnya perhatian pada masa awal kehidupan juga disampaikan Lipursari, S.E., MM. Ia menjelaskan bahwa 1.000 Hari Pertama Kehidupan merupakan periode penting untuk mencegah dan menangani risiko stunting.
Dalam pemaparannya, Lipursari, S.E., MM, menyebutkan bahwa sekitar 11,2 persen stunting bermula sejak dalam kandungan, 60,6 persen terjadi sejak lahir hingga usia dua tahun, dan 28 persen terjadi pada usia dua hingga lima tahun.

“Sebanyak 80 persen pembentukan otak terjadi pada dua tahun pertama kehidupan. Karena itu, pemenuhan gizi dan pencegahan penyakit pada masa ini sangat menentukan tumbuh kembang anak,” jelas Lipursari, S.E., MM.
Ditekankan oleh Lipursari, S.E., MM, bahwa pemenuhan kebutuhan nutrisi perlu disertai stimulasi sejak dini. Perhatian orang tua terhadap perkembangan anak, pemberian rangsangan sesuai usia, serta lingkungan yang mendukung menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan perkembangan otak.
Dalam hal pemberian makanan, ASI eksklusif selama enam bulan pertama menjadi salah satu upaya yang ditekankan. Setelah itu, anak perlu mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) yang memenuhi kebutuhan gizi, diberikan tepat waktu, sesuai kemampuan makan anak, dan aman dikonsumsi. Pemberian ASI juga dapat dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih.
Kebutuhan gizi ibu hamil turut menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan perkembangan janin. Asupan protein, zat besi, asam folat, kalsium, vitamin D, yodium, seng, serta asam lemak omega-3 dan omega-6 perlu diperhatikan sesuai kebutuhan.
Sebaliknya, konsumsi gula dan lemak berlebihan, kafein berlebihan, serta makanan yang kurang matang perlu dibatasi atau dihindari sesuai anjuran kesehatan.
Pembangunan keluarga berkualitas tidak hanya berfokus pada anak usia dini. Program Bangga Kencana juga menempatkan remaja sebagai kelompok penting yang perlu dipersiapkan untuk menjadi generasi sehat dan calon orang tua pada masa mendatang.
Intervensi bagi remaja meliputi pemantauan pertumbuhan, pemeriksaan kesehatan, edukasi kesehatan reproduksi, serta pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri. Persiapan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan diri dan pentingnya merencanakan kehidupan berkeluarga secara bertanggung jawab.
Selain itu, Kemendukbangga/BKKBN menjalankan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) bagi kelompok usia 6–24 tahun. Program ini mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan perkembangan anak, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap fenomena fatherless atau minimnya kehadiran figur ayah dalam kehidupan anak.
Bagi pasangan usia produktif, pendampingan mencakup pemeriksaan kesehatan, edukasi reproduksi, dan perhatian terhadap kebutuhan keluarga baru, khususnya dalam pemenuhan gizi ibu hamil dan menyusui.
Sementara itu, melalui Program Lansia Berdaya (SIDAYA), perhatian juga diberikan kepada kelompok lanjut usia melalui pendampingan, pemantauan kesehatan, dan pemberdayaan agar tetap aktif serta memiliki kualitas hidup yang baik.

Berbagai pendekatan dalam Program Bangga Kencana menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia membutuhkan kesinambungan dari satu tahap kehidupan ke tahap berikutnya. Anak yang sehat memerlukan dukungan keluarga, sementara keluarga membutuhkan akses informasi, layanan kesehatan, dan pendampingan yang memadai.
Karena itu, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, Tim Pendamping Keluarga, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat pencegahan stunting.
Melalui sosialisasi di Kabupaten Tulungagung, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya perencanaan keluarga, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pengasuhan yang berkualitas.
Upaya tersebut menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing. Dengan memperkuat kualitas keluarga sejak dini, Program Bangga Kencana diharapkan turut mendukung terwujudnya sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. (sulis)

