Categories Nasional

Sosialisasi Bangga Kencana di Keputih Dorong Pencegahan Stunting melalui Penguatan Peran Keluarga

IAWNews.com – Upaya mencegah stunting terus didorong melalui penguatan peran keluarga, pemenuhan gizi, pola asuh, serta perencanaan keluarga. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) bersama Mitra Kerja di Kelurahan Keputih, Kecamatan Sukolilo, Kota Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang digelar di Gedung MWC NU, Kelurahan Keputih, Jumat (25/09/2026), menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI Indah Kurniawan, S.E., M.M., Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Timur Shodiqin, S.H., M.M., serta Kepala Bidang Dalduk, KB dan KS Dinas P3AP2KB Kota Surabaya Erma Agustina, S.T., M.M.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai pembangunan keluarga sekaligus pentingnya pencegahan stunting sejak masa awal kehidupan anak.

Dikatakan oleh Indah Kurniawan, S.E., M.M., bahwa masyarakat perlu memahami bahwa peran Kemendukbangga/BKKBN saat ini tidak hanya identik dengan program Keluarga Berencana (KB).

Menurut Indah Kurniawan, S.E., M.M., BKKBN telah bertransformasi menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga atau Kemendukbangga/BKKBN dengan cakupan tugas yang lebih luas, termasuk persoalan kependudukan dan pembangunan keluarga.

Sosialisasi Bangga Kencana di Keputih Dorong Pencegahan Stunting melalui Penguatan Peran Keluarga

“Kalau saya menyebut BKKBN, apa yang pertama kali terlintas? Pasti KB atau Keluarga Berencana. Namun saat ini BKKBN telah bertransformasi menjadi Kemendukbangga,” ujar Indah Kurniawan, S.E., M.M., dalam sambutannya.

Ditekankan oleh Indah Kurniawan, S.E., M.M., pentingnya masyarakat menyebarluaskan kembali informasi yang diperoleh dari kegiatan sosialisasi tersebut kepada keluarga maupun lingkungan sekitar.

Dengan demikian, edukasi mengenai kesehatan keluarga, KB, pengasuhan, dan pencegahan stunting tidak hanya berhenti kepada peserta yang hadir.
Indah juga mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak melalui program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia).

Menurut Indah Kurniawan, S.E., M.M., pembangunan keluarga tidak dapat hanya dibebankan kepada ibu. Ayah juga memiliki peran penting dalam memberikan perhatian, pendampingan, serta teladan kepada anak.

Sementara itu, Shodiqin, SH., MM menjelaskan bahwa pembangunan keluarga dalam program Bangga Kencana dilakukan dengan pendekatan siklus kehidupan. Tujuannya adalah membangun sumber daya manusia yang sehat, unggul, dan berdaya saing sebagai bagian dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045.

Shodiqin, SH., MM menyebut Kemendukbangga/BKKBN memiliki sejumlah program prioritas yang berkaitan dengan penguatan keluarga, salah satunya GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).

Program tersebut mendorong semangat gotong royong untuk membantu keluarga yang memiliki risiko stunting.
“Program GENTING mendorong semangat gotong royong untuk membantu keluarga berisiko stunting,” kata Shodiqin, SH., MM.

Menurut Shodiqin, SH., MM, kondisi keluarga berisiko stunting di Kota Surabaya terus mendapatkan perhatian dan penanganan dari berbagai pihak.

Selain GENTING, terdapat pula program TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak) yang diarahkan untuk mendukung pengasuhan anak, terutama bagi orang tua yang bekerja.

Kemendukbangga/BKKBN juga memiliki program SIDAYA (Lansia Berdaya) serta pengembangan layanan berbasis aplikasi untuk memberikan informasi dan konsultasi kepada masyarakat mengenai kependudukan dan keluarga.

Di sisi lain, program Keluarga Berencana tetap menjadi bagian penting dari pelayanan Kemendukbangga/BKKBN. Masyarakat yang membutuhkan layanan kontrasepsi dapat mengaksesnya melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia.

Dijelaskan oleh Shodiqin, SH., MM, bahwa stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu indikator yang dapat terlihat adalah tinggi badan anak yang lebih rendah dibandingkan standar usianya.

Namun, Shodiqin, SH., MM, mengingatkan bahwa anak dengan tubuh pendek tidak serta-merta dapat disebut mengalami stunting. Penilaian kondisi tersebut harus dilakukan melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara tepat.

Salah satu periode paling penting dalam pencegahan stunting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Bagaimana kita mencegah stunting? Salah satu hal yang sangat penting adalah memastikan pemenuhan kebutuhan anak sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan,” jelas Shodiqin, SH., MM.

Sosialisasi Bangga Kencana di Keputih Dorong Pencegahan Stunting melalui Penguatan Peran Keluarga

Ditambahkan oleh Erma Agustina, ST., MM, bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan dan pemenuhan gizi. Pola asuh, kesehatan lingkungan, serta kondisi keluarga juga memiliki peran penting terhadap tumbuh kembang anak.

Erma Agustina, ST., MM, menyebut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting, antara lain asupan gizi yang tidak mencukupi, tidak optimalnya pemberian ASI eksklusif, anak yang sering mengalami infeksi, serta lingkungan yang tidak bersih dan sehat. “Stunting juga tidak hanya berkaitan dengan makanan dan pemenuhan gizi. Kita perlu memperhatikan bagaimana pola asuh serta cara orang tua merawat dan mendidik anak,” ujarnya.

Menurut Erma Agustina, ST., MM, pencegahan perlu dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa sebelum kehamilan, kehamilan, persalinan, hingga anak berusia dua tahun. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin juga menjadi bagian penting. Orang tua perlu memperhatikan kondisi seperti pertumbuhan tinggi badan yang lebih lambat, berat badan yang sulit meningkat, pertumbuhan gigi yang terlambat, anak yang lebih mudah sakit, hingga adanya hambatan dalam perkembangan kognitif.

Meski demikian, Erma Agustina, ST., MM, menegaskan bahwa tubuh pendek tidak selalu berarti stunting karena tinggi badan juga dapat dipengaruhi faktor genetik. Karena itu, kondisi anak perlu dipastikan melalui pemantauan pertumbuhan dan pemeriksaan yang sesuai.

Pembangunan keluarga berkualitas, lanjut Erma Agustina, ST., MM, juga dimulai sejak sebelum pasangan memiliki anak. Salah satunya dengan mencegah perkawinan pada usia anak. Kesiapan fisik, organ reproduksi, psikologis, dan sosial menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan sebelum memasuki kehidupan berkeluarga dan kehamilan.

Perencanaan keluarga melalui program KB juga menjadi salah satu bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih siap dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Selain itu, masyarakat didorong menerapkan pola hidup sehat, memantau status gizi anak, serta memperhatikan konsep 4 Terlalu, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak.

Dikatakan oleh Erma Agustina, ST., MM, bahwa Pemerintah Kota Surabaya telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung pencegahan stunting dan pembangunan keluarga.

Program tersebut antara lain Tim Pendamping Keluarga (TPK), Kader Surabaya Hebat (KSH), Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), KEMANGI (Kelas Remaja dan Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri), DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting), pelayanan KB, serta UPPKA (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor).

Sosialisasi Bangga Kencana di Keputih Dorong Pencegahan Stunting melalui Penguatan Peran Keluarga

Pemkot Surabaya juga memiliki mekanisme intervensi melalui Alur Zero Growth Stunting untuk memberikan penanganan dan pendampingan secara lebih terarah terhadap anak maupun keluarga yang membutuhkan.

Berbagai program tersebut menunjukkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, orang tua, hingga masyarakat.

Melalui sosialisasi Program Bangga Kencana bersama mitra kerja di Kelurahan Keputih, masyarakat kembali diingatkan bahwa pencegahan stunting tidak dilakukan setelah anak mengalami masalah pertumbuhan. Upaya tersebut perlu dimulai sedini mungkin melalui perencanaan keluarga, kesehatan ibu, pemenuhan gizi, pengasuhan yang baik, lingkungan sehat, serta pemantauan tumbuh kembang anak secara berkelanjutan. (sulis)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like