IAWNews.com – Pencegahan stunting tidak bisa hanya dilakukan dengan memperbaiki asupan gizi anak setelah dilahirkan. Upaya tersebut harus dimulai jauh lebih awal, yakni sejak masa remaja, persiapan pernikahan, perencanaan kehamilan, hingga pola pengasuhan dalam keluarga. Kesadaran membangun keluarga yang sehat dan terencana menjadi kunci melahirkan generasi bangsa yang berkualitas.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Galan Living, Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, S.E., M.B.A., Sekretaris Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., dan Kabid Dalduk DP2KBP3A Kabupaten Magelang, Vidya Nirmala, SKM., M.Kes.
Ketiganya menyoroti pentingnya membangun kesadaran masyarakat bahwa kualitas generasi bangsa sangat ditentukan oleh kesiapan keluarga. Perencanaan jumlah anak, jarak kehamilan, kesehatan ibu, keterlibatan ayah, serta pola pengasuhan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pencegahan stunting.
Dikatakan oleh Vita Ervina, S.E., M.B.A., bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan persiapan yang menyeluruh. Keluarga tidak hanya dituntut mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga harus memperhatikan kesehatan, pendidikan, pola asuh, serta masa depan anak.

Dijelaskan oleh Vita Ervina, S.E., M.B.A., bahwa Program Bangga Kencana yang dijalankan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN memiliki peran strategis dalam mewujudkan keluarga sehat, bahagia, dan berkualitas. “Semoga program ini bisa berjalan dengan baik dan diterima masyarakat. Sehingga masyarakat lebih berkualitas dalam kehidupannya,” ucapnya.
Menurutnya, Bangga Kencana dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana. Ketiganya saling berkaitan dalam menciptakan ketahanan keluarga sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Pembangunan keluarga berfokus pada kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan spiritual. Sementara pengelolaan kependudukan diarahkan untuk menjaga keseimbangan jumlah, kualitas, dan persebaran penduduk. Adapun keluarga berencana membantu pasangan usia subur menentukan jumlah anak dan jarak kehamilan berdasarkan kesiapan keluarga.
Ditegaskan oleh Vita Ervina, S.E., M.B.A., bahwa dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat harus berjalan beriringan agar program tersebut dapat memberikan manfaat nyata.
Dalam pemaparannya, Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., mengingatkan bahwa stunting merupakan persoalan kompleks yang tidak berdiri sendiri. Gangguan pertumbuhan anak dapat berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan, lingkungan, kesiapan orang tua, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. “Stunting adalah hasil akhir dari semua akar masalah,” ujarnya.
Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., menilai, salah satu perhatian penting dalam pencegahan stunting adalah kehamilan yang tidak direncanakan. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak harus diperkuat, khususnya bagi kalangan remaja.
Menurut Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., pengetahuan tentang kesehatan reproduksi tidak boleh dianggap tabu. Remaja perempuan maupun laki-laki perlu mendapatkan informasi yang benar agar memahami kesehatan tubuh, mampu menjaga diri, dan memiliki kesiapan dalam merencanakan kehidupan berkeluarga.

Pencegahan juga harus dilanjutkan ketika seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi bagian penting untuk memantau kondisi ibu dan janin. Ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan sedikitnya enam kali selama kehamilan sesuai anjuran pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, penguatan pencegahan stunting dilakukan melalui berbagai program yang saling melengkapi. GATI atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting mengajak masyarakat bergotong royong membantu keluarga berisiko stunting. Sementara SIDAYA diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan keberdayaan kelompok lanjut usia.
Al Khafid Hidayat, S.Pd.I., menambahkan, keberhasilan program juga sangat bergantung pada pendampingan keluarga di tingkat masyarakat. Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) memiliki peran penting dalam melakukan deteksi dini, skrining risiko, edukasi, konseling, kunjungan rumah, hingga menghubungkan keluarga dengan fasilitas kesehatan dan bantuan sosial.
Pendampingan tersebut diperkuat dengan pencatatan serta pelaporan data secara real-time agar keluarga yang membutuhkan intervensi dapat teridentifikasi dan memperoleh layanan yang sesuai.
Sementara itu, Vidya Nirmala, SKM., M.Kes menjelaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas merupakan bagian penting dari persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Kabupaten Magelang memiliki berbagai kelompok sasaran pembangunan keluarga, mulai dari keluarga dengan baduta, balita, remaja, pasangan usia subur, hingga keluarga yang memiliki anggota lanjut usia. Setiap kelompok membutuhkan pendekatan dan pendampingan sesuai tahapan kehidupannya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Menurut Vidya Nirmala, SKM., M.Kes, tanggung jawab membesarkan dan mendidik anak bukan hanya berada di pundak ibu.
Melalui program GATI, Kabupaten Magelang mengembangkan sejumlah kegiatan untuk meningkatkan kedekatan ayah dengan anak. Kegiatan tersebut antara lain bilik konsultasi ayah, aktivitas ayah dan anak, serta berbagai upaya mendorong kehadiran ayah dalam proses tumbuh kembang anak.

“Gerakan Ayah Teladan ini mendorong agar ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga hadir dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak,” ujar Vidya Nirmala, SKM., M.Kes.
Selain itu Vidya Nirmala, SKM., M.Kes, juga menyampaikan sejumlah program yang dijalankan untuk mendukung percepatan penanggulangan stunting di Kabupaten Magelang, di antaranya GENTING, DASHAT, dan MBG 3B.
Menariknya, Kabupaten Magelang turut mengembangkan inovasi sosial melalui program Sogoro Beras. Program ini berupa pemberian sedekah dalam bentuk uang kepada keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.
Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan kebutuhan keluarga sekaligus memperkuat kepedulian sosial masyarakat terhadap upaya pencegahan stunting.
Penguatan pelayanan juga dilakukan melalui pendataan fasilitas pelayanan kesehatan dan Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang telah terdaftar dalam Sistem Informasi Keluarga (SIGA).
Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan menyeluruh. Tidak cukup hanya mengandalkan intervensi kesehatan, tetapi juga memerlukan edukasi, perencanaan keluarga, penguatan ekonomi, dukungan sosial, serta keterlibatan seluruh anggota keluarga.

Melalui Program Bangga Kencana, masyarakat diajak memahami bahwa membangun generasi unggul harus dimulai dari keluarga yang memiliki perencanaan matang, orang tua yang bertanggung jawab, serta lingkungan yang mendukung kesehatan dan perkembangan anak.
Dengan demikian, pencegahan stunting bukan sekadar upaya mengatasi persoalan pertumbuhan anak, melainkan investasi jangka panjang untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. (gons)

