IAWNews.com – Setelah lebih dulu mencuri perhatian lewat sederet single seperti Love Ya, Cowok Red Flag, dan Second Choice, duo DJ dan produser DNA, yang beranggotakan JayJax dan Mister Aloy, akhirnya membuka babak baru perjalanan karier mereka melalui album perdana bertajuk OURORA. Bukan sekadar kumpulan lagu, album berisi 18 trek ini menjadi manifestasi identitas musikal yang selama ini ingin mereka tunjukkan kepada publik.
Album tersebut diperkenalkan melalui Press Conference & Exclusive Listening Party di W Superclub Gatsu, Jakarta Selatan, pada 1 Juli 2026. Berbeda dari peluncuran album pada umumnya, DNA menyulap area acara menjadi ruang pengalaman visual dengan menghadirkan mini karnaval, nuansa pasar malam, instalasi perjalanan karier, hingga penampilan pembuka bernuansa orkestra.
“Kami tidak mau sekadar merilis album. Kami ingin orang yang datang merasakan pengalaman masuk ke dunia DNA. Karena itu ada karnaval, pasar malam, sampai foto-foto perjalanan kami dari awal,” ujar Mister Aloy.

Menurutnya, konsep tersebut dipilih karena DNA ingin musik elektronik terasa lebih dekat dengan semua kalangan. Suasana permainan masa kecil dan pasar malam menjadi simbol bahwa musik mereka dapat dinikmati siapa saja tanpa batas.
Tak hanya menghibur, DNA juga ingin memperlihatkan sisi lain yang lebih matang sebagai musisi. Hal itu diwujudkan lewat penampilan formal dengan balutan jas serta aransemen orkestra yang mengiringi pembukaan acara.
Dikatakan oleh JayJax, bahwa selama ini DNA memang dikenal sebagai duo DJ yang selalu tampil penuh canda dan energi di atas panggung. Namun, OURORA menjadi bukti bahwa mereka juga serius dalam membangun karya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kami bukan hanya entertainer. Kami juga serius dalam bermusik. Orkestra menjadi simbol bahwa DNA bisa menghadirkan karya yang lebih luas tanpa kehilangan karakter kami,” kata JayJax.

Album OURORA sendiri lahir dari proses kreatif yang berlangsung hampir empat tahun. Di dalamnya, DNA tidak membatasi diri pada satu genre. Pendengar akan menemukan perpaduan Indo Bounce, techno, trap, dirty dutch, drum and bass, future house, hingga sentuhan hip-hop yang diramu dalam satu alur cerita.
Bagi Mister Aloy, OURORA merupakan langkah untuk memperkenalkan warna musik DNA yang sebenarnya. “Selama ini orang mengenal kami lewat musik klub. Padahal kami punya banyak warna yang belum pernah kami tunjukkan. Album ini menjadi cara kami mengajak pendengar mengenal DNA lebih dalam,” tuturnya.
Ke-18 lagu dalam album disusun layaknya sebuah perjalanan. Dimulai dari Who Tf Are We yang memperkenalkan identitas DNA, lalu berlanjut ke Quest of The Sea, Two Heads, hingga berbagai lagu yang menggambarkan dinamika kehidupan, mulai dari tekanan, patah hati, hingga menemukan harapan baru.
Alur cerita itu diperkuat dengan sejumlah skit yang menjadi penghubung antarlagu sehingga album terasa seperti satu kisah utuh. “Kalau didengarkan dari awal sampai akhir, sebenarnya ada ceritanya. Semua lagu saling terhubung,” ucap Mister Aloy.

Dalam proyek ambisius ini, DNA juga menggandeng sejumlah nama untuk memperkaya eksplorasi musikal mereka. PARKZ hadir dalam tiga lagu, sementara kolaborasi lainnya melibatkan Qory Gore, Syeqy, Indahkus, WLVS, hingga YB atau Reza Oktavian.
Menurut JayJax, kolaborasi bersama YB dalam lagu Anomali menjadi tantangan terbesar selama proses produksi. “Lagu ini menggabungkan banyak elemen genre. Kami mencoba memasukkan warna musik lokal ke dalam elektronik modern. Awalnya sempat ragu, tetapi hasil akhirnya justru menjadi salah satu lagu yang paling kami banggakan,” ungkapnya.
Sementara itu, Mister Aloy memilih Love Ya dan Feel It Comin sebagai lagu favorit karena menjadi momen kolaborasi yang paling berkesan baginya. Di sisi lain, JayJax menjagokan Round The World dan Anomali karena dianggap paling merepresentasikan eksplorasi musikal DNA.
Tak hanya dari sisi musik, OURORA juga membawa filosofi visual yang kuat. Nama OURORA terinspirasi dari fenomena aurora yang memiliki banyak warna. Filosofi itu menggambarkan keberagaman ide, karakter, dan orang-orang yang berada di balik perjalanan DNA.
“DNA bukan cuma saya dan Aloy. Ada banyak orang yang bekerja bersama kami. Semua itu menjadi warna yang membentuk DNA sampai hari ini,” kata JayJax.

Visual album karya Elsha Graciella turut memperkuat makna tersebut melalui ilustrasi matahari terbit, kawanan burung yang terbang menuju cakrawala, kabel listrik yang kusut sebagai simbol perjalanan hidup, hingga pantulan air yang menggambarkan refleksi diri.
Setelah perilisan OURORA, DNA telah menyiapkan rangkaian tur ke berbagai kota di Indonesia. Mereka ingin membawa pengalaman yang sama seperti saat peluncuran album, yakni memadukan musik, visual, dan hiburan dalam satu pertunjukan.
“Kami ingin orang datang bukan hanya mendengarkan lagu, tetapi benar-benar masuk ke dunia DNA. OURORA adalah awal perjalanan kami, bukan akhir,” pungkas JayJax. (sulis)

