IAWNews.com – Film horor Indonesia kembali menghadirkan konsep segar melalui DUKUN MAGANG, karya terbaru dari Dens Vision Multimedia dan Wahana Pictures yang akan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026. Menggabungkan unsur horor, misteri, dan komedi, film ini menawarkan cerita unik tentang seorang mahasiswa yang terpaksa mendalami dunia perdukunan demi menyelesaikan skripsinya.
Dalam acara Press Conference dan Gala Premiere yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026), para pemain dan kru membagikan cerita di balik proses kreatif film yang mengangkat benturan antara logika akademis dan dunia mistis tersebut.
Diungkapkan oleh Denny Januar selaku Produser Eksekutif, bahwa ide DUKUN MAGANG lahir dari keinginan menghadirkan tontonan yang berbeda dan dapat dinikmati oleh berbagai kalangan penonton.

Menurut Denny Januar, dari sejumlah konsep yang sempat dikembangkan, judul DUKUN MAGANG menjadi pilihan utama karena menawarkan premis yang sederhana namun menarik. “Kami mencari ide yang segar dan bisa diterima semua lapisan masyarakat. Ketika konsep Dukun Magang muncul, saya merasa ini memiliki sesuatu yang berbeda dan berpotensi menjadi tontonan yang menghibur,” katanya.
Ketertarikan tersebut semakin kuat setelah naskah selesai dikembangkan. Denny Januar bahkan langsung memutuskan untuk melanjutkan proyek tersebut dan melibatkan sejumlah komika sebagai konsultan kreatif guna memperkuat unsur humor yang menjadi salah satu kekuatan film.
Film ini berpusat pada karakter Raka, mahasiswa tingkat akhir yang diperankan Jefan Nathanio. Berbeda dengan mahasiswa lain yang berjuang menyelesaikan penelitian di kampus, Raka justru harus menjalani pengalaman tidak biasa dengan magang kepada seorang dukun legendaris bernama Mbah Djambrong.
Bagi Jefan Nathanio, karakter Raka memiliki kedekatan dengan dirinya karena sama-sama memiliki sifat skeptis. “Raka sebenarnya hanya ingin menyelesaikan skripsinya. Dia selalu mencoba melihat segala sesuatu secara logis. Rasa skeptis itulah yang menjadi identitas karakter ini,” ujarnya.

Namun, logika yang selama ini dipegang Raka mulai goyah ketika ia harus menghadapi berbagai kejadian mistis yang terjadi di Desa Kalimati. Situasi semakin rumit setelah ia dan Sekar tanpa sengaja membebaskan sosok gaib yang telah lama dikurung.
Karakter Sekar yang diperankan Hana Saraswati menjadi sosok penting dalam perjalanan Raka. Sebagai mahasiswi asal Kalimati, Sekar membantu Raka memahami berbagai peristiwa yang terjadi di desa tersebut.
Menurut Hana Saraswati, Sekar adalah karakter yang selalu berusaha membantu orang-orang terdekatnya. “Dia melihat kesempatan untuk membantu Raka menyelesaikan kuliahnya. Niatnya baik, meskipun akhirnya mereka justru terlibat dalam masalah yang jauh lebih besar,” ucapnya.
Melalui Sekar, Raka diperkenalkan pada berbagai tradisi dan rahasia yang selama ini tersembunyi di Kalimati. Dari sinilah misteri utama film mulai berkembang. Konflik terbesar muncul ketika Kuntilanak Hitam yang telah dipenjara selama 12 tahun berhasil lepas.
Berbeda dengan gambaran kuntilanak pada umumnya, film ini memperkenalkan tingkatan kekuatan berdasarkan warna. Kuntilanak putih berada pada level dasar, kuntilanak merah memiliki kekuatan lebih besar, sedangkan kuntilanak hitam menjadi entitas paling berbahaya. Konsep tersebut menjadi salah satu elemen misteri yang membedakan DUKUN MAGANG dari film horor lainnya.

Ancaman Kuntilanak Hitam tidak hanya mengganggu kehidupan warga desa, tetapi juga memaksa Raka belajar ilmu perdukunan dalam waktu singkat agar mampu menghadapi berbagai teror yang muncul.
Meski dibangun di atas fondasi cerita horor, DUKUN MAGANG tetap menempatkan komedi sebagai elemen penting.
Sutradara Chiska Doppert mengungkapkan bahwa proses menciptakan humor terasa lebih mudah karena para pemain memiliki kemampuan improvisasi yang baik. “Saya bekerja dengan pemain-pemain yang sangat terbuka dan natural. Banyak momen lucu yang muncul begitu saja saat syuting sehingga terasa organik,” katanya.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Fajar Nugra yang memerankan Boiman. Ia mengaku langsung tertarik setelah membaca naskah film. Menurut Fajar Nugra, kombinasi cerita yang lucu, tim kreatif yang memahami komedi, serta kehadiran para pemain dari dunia komedi menjadi alasan utama dirinya bergabung dalam proyek ini.
Selain menghadirkan sosok Mbah Djambrong, film ini juga memperkenalkan karakter Dukun Karno yang diperankan Mang Osa. Karno digambarkan sebagai salah satu rival Mbah Djambrong yang turut memperkaya konflik dalam cerita. Untuk memerankan karakter tersebut, Mang Osa harus mempelajari dialek Jawa yang menjadi ciri khas tokohnya.
Tantangan serupa juga dialami Adi Sudirja yang berperan sebagai Mbah Djambrong. Aktor asal Medan tersebut harus berlatih logat Jawa secara intens demi menghadirkan karakter dukun legendaris yang meyakinkan.
Adi Sudirja bahkan menyebut adegan di sungai sebagai salah satu momen tersulit selama produksi karena menuntut kesiapan fisik dan emosional yang tinggi.

Selain para pemeran utama, DUKUN MAGANG juga dibintangi Dodit Mulyanto, Mo Sidik, Wira Nagara, Norma, Dian Herdiana, Salsabila Zahra, Gabriel Austin, dan Anastasia sebagai Kuntilanak Hitam.
Dengan premis yang unik, misteri yang terus berkembang, serta perpaduan horor dan komedi yang dirancang berjalan seimbang, DUKUN MAGANG menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton.
Film ini bukan hanya menghadirkan kisah tentang dunia gaib, tetapi juga perjalanan seorang mahasiswa yang harus memilih antara mempertahankan logikanya atau menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Jawaban atas misteri Desa Kalimati dan teror Kuntilanak Hitam akan terungkap ketika DUKUN MAGANG mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Juni 2026. (cahyo)

